Tahapan dan Metode Pendidikan Anak yang Penting Diketahui Orang Tua dan Guru

Tahapan Pendidikan Anak dalam Islam yang Penting Diketahui Orang Tua dan Guru

Dalam perkembangan pendidikan, para pegiat atau praktisi pendidikan berlomba mencari metode pendidikan yang tepat untuk dipraktikkan di sekolah. Tokoh-tokoh pendidikan dari luar negeri pun ikut meramaikan metode pendidikan di Indonesia, sebut saja Maria Montessori. Sedangkan dari dalam negeri ada Ki Hajar Dewantara yang popular dengan ing madya mangun karsa, ing ngarso sung tulodo, dan tut wuri handayani.

Sayangnya banyak yang hanya mengenal bagian akhir saja, yaitu tut wuri handayani. Pemikiran Ki Hajar Dewantara ini ternyata banyak digunakan di banyak negara di luar negeri. Lalu bagaimana dengan pendidikan anak dalam Islam di sekolah-sekolah seperti madrasah atau tsanawiyah?

Dalam praktiknya pendidikan anak dalam Islam ada tahapan yang sangat penting diketahui semua orang tua atau guru di sekolah. Tahapan ini penting dalam memberikan program yang tepat untuk anak-anak. Jika orang tua atau guru mampu memberikan program yang tepat pada setiap jenjangnya, anak akan berkembang dengan baik karena kebutuhan pada saat usia tertentu dapat terpenuhi. Ibarat cangkir yang kosong, sebagai orang tua atau guru kita harus mengisi dengan takaran yang pas agar tidak berlebihan atau juga kekurangan.

Untuk mendapatkan takaran yang pas, kita harus mengenal tahapan pendidikan anak dalam Islam. Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a tahapan pendidikan anak berjenjang menurut umurnya. Jenjang tersebut adalah 0-7 tahun, 7-14 tahun, dan 14-21 tahun. Inilah pendidikan berjenjang sesuai dengan per 7 tahun usianya.

Tahapan Tujuh Tahun Pertama atau 0-7 Tahun, Perlakukan Anak sebagai Raja

Dalam tahapan anak sebagai raja berarti memperlakukan anak sebaik-baiknya. Ajak mereka bermain yang menyenangkan. Anak belajar dari permainan yang mereka lakukan. Banyak permainan yang bisa merangsang pertumbuhan motorik kasar dan motorik halus anak. Dalam tahap ini, anak harus mendapatkan pengalaman yang menyenangkan bahwa dunia ini indah. Sebagai raja, anak harus mendapat kesan bahwa dunia ini aman untuk dirinya.

Walaupun kita memperlakukan anak sebagai raja bukan berarti mengikuti semua kemauannya. Orang tua atau guru bisa mengarahkan ke jenis permainan yang lain, misalnya saat ia memilih permainan yang berbahaya untuk dirinya, guru atau orang tua bukan menolak tapi mengalihkan ke permainan yang juga sama asyiknya. Memberikan semua keinginannya tentu tidak baik karena akan membuat anak menjadi manja. Yakinkan segala jenis permainannya aman untuk anak. Hindari gadget atau barang elektronik karena banyak penelitian yang menyarankan untuk tidak dimainkan anak-anak dengan segala risiko terutama menyangkut keterampilan motoriknya.

Tahapan Tujuh Tahun Kedua atau 7-14 Tahun, Perlakukan Anak sebagai Tawanan

Ajarkan anak hal mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Menjadi tawanan dalam arti positif adalah anak mengenal aturan. Sebagaimana halnya tawanan yang harus mengikuti setiap instruksi orang lain.

Dalam tahap ini, anak mengenal aturan dan belajar disiplin atau proses penanaman dalam diri anak-anak. Dalam tahap ini Rasul saw. pernah mengatakan jika anak di usia 10 tahun harus belajar disiplin salat. Salat dan ibadah lainnya secara teratur harus sudah mulai dikerjakan oleh anak.

Penanaman disiplin di tahap ini sangat penting karena akan menjadi pondasi untuk anak-anak saat mereka besar. Kehilangan momentum di tahap ini akan mengakibatkan anak tidak patuh, membangkang, atau melakukan suatu hal sesukanya. Guru dan orang tua memiliki otoritas yang kuat terhadap anak dalam mengarahkan dan menanamkan disiplin dengan baik.

Tahapan Tujuh Tahun Ketiga atau 14-21 Tahun, Perlakukan Anak sebagai Duta Besar

Di tahap ini, secara pertumbuhan dan perkembangan anak sudah terbentuk motorik kasar dan motorik halus dengan baik. Demikian juga perkembangan kemampuan berpikirnya sudah memasuki tahap dewasa. Anak sudah mampu memutuskan hal yang harus dikerjakan atau tidak dikerjakannya, anak bisa memilih secara mandiri. Kemandirian anak menjadi modal untuk melepasnya sebagai duta besar. Sebagaian kalangan menyebutnya dengan tahapan menjadikan anak sebagai sahabat. Ya, duta besar berarti menjadi perwakilan di negara lain yang harus kita dukung. Otoritas orang tua dan guru secara perlahan berkurang. Otoritas dalam mendidik sudah tidak sebesar saat anak-anak waktu kecil. Tetapi tetap pengontrolan terhadap anak masih ada.

Tahapan perkembangan pendidikan anak dalam Islam ini harus diikuti dengan kemampuan guru atau orang tua dalam memberikan program sesuai jenjangnya. Metode yang dipakai harus benar-benar sesuai dengan tahapan anak.

Dalam hal ini ada lima metode pendidikan islam menurut Muhammad Quthb dan Abdullah Nasih Ulwan yaitu,

  1. Pemberian teladan (qudwah)
  2. Pemberian pembiasaan (aadah)
  3. Pemberian nasihat (mau’izhoh)
  4. Mekanisme kontrol (mulahazhoh)
  5. Sanksi atau denda (uqubah).


Kelima metode ini harus dikerjakan secara konsisten dan bersamaan. Jangan hanya menitikberatkan pada satu metode saja. Berikan sesuai jenjangnya dan kemampuan anak. Tak jarang yang salah paham dalam pendidikan karena terlalu besar dalam satu metode, misalnya sebut saja yang sering banyak kita dengar yaitu sanksi atau teguran atau hukuman. Padahal, masih banyak cara yang bisa dilakukan guru atau orang tua dalam tahap jenjang tertentu untuk memberikan pelajaran kepada siswa atau anak didiknya di sekolah.

Jangan lupakan teladan, anak harus mendapat teladan yang baik dari guru dan orang tuanya. Jika guru mampu menjadi teladan yang baik untuk muridnya maka insyallah pendidikan akan berjalan dengan baik. Anak menyerap semua proses keteladanan yang penting ditahap usianya.

Sumber : Iden Wildensyah

Belum ada Komentar untuk "Tahapan dan Metode Pendidikan Anak yang Penting Diketahui Orang Tua dan Guru"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel